#IndonesiaSadar: Mapping the Digital Conversation

8 menit baca

Poin kunci

  1. 1#IndonesiaSadar sudah beredar sebelum aksi 28 Oktober. Jejak paling awal dalam penelusuran ditemukan pada 19 Oktober, disusul kabar aksi, penggalangan dana, panduan keamanan, dan ajakan bergabung dala
  2. 2“Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan” menjadi pesan paling menonjol. Sebanyak 3.562 dari 13,795 tweets berklaster masuk kelompok slogan kesadaran.
  3. 3Keluhannya menyangkut kehidupan sehari-hari. Pengguna membicarakan pajak, harga kebutuhan, pendidikan, kebakaran hutan.
  4. 4Saat aksi berlangsung, kabar peserta dan pesan keselamatan makin terlihat. Percakapan memuat dukungan, doa, serta klaim ketegangan dari beberapa lokasi yang perlu diverifikasi secara terpisah.
Sumber: @olivssketch

#IndonesiaSadar menjadi tagar yang paling banyak dibicarakan di X pada 28–30 Oktober 2026 pukul 23:15 WIB. Tagar ini juga dibagikan bersama keluhan tentang pajak, harga kebutuhan, kebakaran hutan, dan kebijakan pemerintah. Pertanyaannya: apa saja yang menjadi pembicaraan warganet? Apa yang coba disuarakan lewat #IndonesiaSadar? Dan bagaimana percakapannya berkembang?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Kaiora mengumpulkan 13.795 unggahan selama tiga hari tersebut.

Apa yang paling banyak dibicarakan dan berusaha disuarakan?

Dari jumlah itu, teks dikelompokkan menjadi 11 klaster topik. Kaiora menganalisis teks tersebut dengan mengubah setiap teks yang ada menjadi representasi angka yang menangkap kemiripan maknanya. Lalu, kemiripan antarrepresentasi tersebut kemudian digunakan untuk mengelompokkan teks yang membahas persoalan serupa. Berikut adalah hasil analisis terhadap enam (6) topik teratas.

1. Slogan kesadaran (3562 tweets)

“Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan” merupakan slogan yang paling sering muncul dalam percakapan. Kelompok ini mencakup sekitar 30 persen dari seluruh teks berklaster. Kalimat tersebut juga muncul dalam versi yang lebih panjang:

“Sadar Dibungkam, Sadar Dibohongi, Sadar Dibakar, Sadar Diperas, Sadar Dipalak, Sadar Dibodohi, Sadar Dimiskinkan.”

Dalam beberpa tweets, sebagian pengguna juga menutupnya dengan:

“Kami sadar dan akan melawan!”

Dari beberapa contoh tweets yang ada, kata-kata ini muncul dan berhubungan dengan beberapa persoalan, seperti:

  • “Dipalak” dan “diperas” muncul bersama kritik mengenai pajak, harga kebutuhan, dan beban hidup.
  • “Dibakar” muncul bersama pembicaraan tentang kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan.
  • “Dimiskinkan” muncul bersama keluhan mengenai kesulitan hidup dan kebijakan pemerintah.
  • “Dibungkam”, “dibohongi”, dan “dibodohi” memperpanjang kritik ke persoalan suara warga dan kepercayaan kepada penguasa.

Temuan ini juga dapat dilihat melalui Peta jaringan kata yang menunjukkan bagaimana kata-kata tersebut berkumpul dalam satu kelompok (lihat gambar di bawah).

Dari temuan ini, pengulangan kata “sadar” tampaknya dipakai berulang oleh warganet untuk mengajak masyarakat melihat persoalan yang sedang mereka alami sekarang ini. Kata-kata setelahnya menyampaikan keluhan: merasa dibebani, tidak didengar, diperlakukan tidak adil, atau dirugikan.

2. Pantauan dan pembicaraan aksi masa (1035 tweets)

Selain sebagai sebuah ungkapan protes dan ajakan untuk melihat persoalan yang ada, tagar ini juga digunakan untuk membagikan kabar demonstrasi. Contoh unggahan menyebut Bundaran HI, Trisakti, dan Malioboro, disertai informasi tentang lokasi massa, keberadaan aparat, serta keadaan peserta.

Ada unggahan yang mengklaim massa dihadang, terjadi bentrokan, atau aparat menggunakan gas air mata. Ada pula komentar dan cerita yang dibagikan kembali setelah kejadian.

Bagi orang yang tidak berada di lokasi, tagar ini menjadi salah satu tempat mencari kabar dan mengikuti keadaan peserta aksi.

3. Kritik soal pajak, ekonomi, dan pemerintah (1351)

Kluster ketiga dalam tagar #IndonesiaSadar memuat kemarahan warganet terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia. Pengguna tidak sekadar membicarakan mengenai pajak yang mencekik, tetapi juga membicarakan harga kebutuhan, penggunaan anggaran, pendidikan, lingkungan, dan respons pemerintah terhadap kritik.

Salah satu unggahan mempertanyakan mengapa hak warga untuk mengkritik negara harus dinilai dari besar kecilnya pajak yang mereka bayar. Pengguna lain mempersoalkan prioritas program pemerintah.

Dalam hal tersebut, pengguna juga mempertanyakan mengapa pembalut dikenai pajak, padahal merupakan kebutuhan menstruasi yang harus dibeli setiap bulan. Ada yang menyerukan “BEBASKAN PAJAK PEMBALUT!!”, ada pula yang menceritakan harus memilih antara makan atau membeli pembalut ketika uangnya tinggal Rp5.000. Kritik mereka menyoroti beban pajak atas kebutuhan yang tidak bisa ditunda, sekaligus menuntut agar kebijakan memperhitungkan kebutuhan perempuan.

Persoalan yang mengikat berbagai kata dalam kluster ini adalah hubungan antara beban warga dan tanggung jawab negara: apa yang ditanggung masyarakat, apa yang mereka terima, dan apakah suara mereka diperhatikan.

4. Amplifikasi tagar berisik (1249)

Kluster selanjutnya berkaitan dengan ajakan membagikan kabar, atau pengulangan tagar, misalnya seperti:

“ayokkk berisik buatt kedzoliman rezim sekrng #IndonesiaSadar”

“maaf cuma bisa bantu rt”

Pengguna menggunakan tagar ini sebagai cara mereka untuk ikut mendukung ketika mereka tidak berada di lokasi. Mereka berusaha membuat kabar dan tuntutan aksi tetap terlihat. Sebagian pengguna memakai unggahan sebagai tanda ikut hadir dengan membantu menyebarkan, menjaga perhatian, atau menunjukkan keberpihakan.

5. Doa dan keselamatan peserta aksi (1035)

“Stay safe” yang berarti jaga diri atau tetap aman menjadi pesan yang berulang muncul dalam membentuk kluster ini. Pengguna berharap peserta aksi dilindungi, mengingatkan mereka agar berhati-hati, dan berterima kasih kepada orang yang telah turun ke jalan dan membantu.

Salah satu unggahan menggambarkan peserta pulang bergandengan agar tidak ada teman tertinggal. Contoh lain menyampaikan penghargaan kepada orang yang merekam kejadian, menyebarkan informasi, membagikan makanan, atau memberikan pertolongan.

Pesan-pesan ini memperlihatkan kekhawatiran warganet terhadap keselamatan peserta sekaligus dukungan kepada mereka. Ada yang mengikuti kabar dari jauh dan hanya bisa menitipkan doa.

6. Seruan Global ekologis (871)

Kluster berikutnya mencakup seruan global ekologis. Dalam kluster ini, tweets umumnya menggunakan bahasa inggris, misalnya muncul slogan “For the Forest, the Animals, and the People” yang berarti: untuk hutan, satwa, dan manusia.

Kalimat ini muncul dalam contoh unggahan berbahasa Inggris. Percakapannya juga disertai tagar seperti #IndonesiaButuhOksigen dan #AllEyesOnIndonesia.

Pesan tersebut menghubungkan kepedulian warganet terhadap kondisi alam Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Dalam hal ini, beberapa pengguna menggunakan bahasa Inggris untuk membuka kemungkinan pesan dibaca lebih luas.

Bagaimana tagar ini berkembang?

Hasil penelusuran Kaiora terhadap tagar #IndonesiaSadar sudah beredar sebelum hari demonstrasi tanggal 28 Oktober. Penelusuran unggahan yang lebih lama menemukan bahwa tagar tersebut berkaitan dengan seruan konsolidasi aksi. Jejak unggahan yang ditemukan memperlihatkan perkembangannya dalam empat fase.

Fase 1: Mengumpulkan alasan untuk bersuara

19–20 Oktober

Unggahan awal menunjukkan bahwa tagar #IndonesiaSadar digunakan untuk mempertanyakan apa yang benar-benar dirasakan rakyat setelah dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran.

Sehari kemudian, #IndonesiaSadar kemudian dipakai dalam kabar aksi mahasiswa di Tugu Proklamasi dan aksi di Tugu Tani, Jakarta. Tuntutannya mencakup kebakaran hutan, ketimpangan ekonomi, ruang sipil, korupsi, dan biaya pendidikan.

Dalam fase ini, rencana aksi lebih besar pada 28 Oktober juga sudah disebut. Jadi, ketika tagar ini ramai pada hari demonstrasi, persiapannya sudah berjalan setidaknya beberapa hari sebelumnya.

Fase 2: Menjelang aksi, ajakan mulai dibagikan

24–27 Oktober

Percakapan terkait tagar ini kemudian bermunculan yang memuat berbagai hal terkait keberangkatan dan kebutuhan peserta. Ada informasi penggalangan dana untuk transportasi serta pelaksanaan aksi, ajakan untuk turun dan ikut aksi, serta panduan keamanan bagi warga yang ingin ikut.

Lalu, pada 27 Oktober, slogan berikut kemudian beredar:

“Sadar Dibungkam, Sadar Dibohongi, Sadar Dibakar, Sadar Diperas, Sadar Dipalak, Sadar Dibodohi, Sadar Dimiskinkan.”

Di bawahnya tertulis: “Kami sadar dan akan melawan!”

Pengguna lain menyalin pesan itu. Ada yang menambahkan, “BANTU SEBARKAN GUYSS”, ada pula yang mengingatkan bahwa aksi akan berlangsung besok.

Pada tahap ini, “sadar” sudah menjadi ajakan untuk ikut berbuat. Bentuknya bisa hadir di lokasi, membantu biaya, atau meneruskan informasi kepada orang lain.

Fase 3: Hari aksi

28 Oktober

Pada fase ini, slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan” kemudian banyak diulang dan terus dibagikan hingga siang hari. Dari berbagai percakapan tersebut,  Kaiora menemukan percakapan terkait tagar ini juga beragam. Ada yang menyertakan kritik. Ada yang mengajak terus “berisik”. Ada juga yang menulis, “maaf cuma bisa bantu rt”.

Menjelang sore, unggahan mulai lebih banyak membicarakan keadaan di jalan. Pengguna menyebut lokasi massa di Jakarta, keberadaan aparat, dan peserta yang diklaim tertahan menuju titik aksi.

Sekitar jam 18.00, muncul klaim penggunaan gas air mata dan kendaraan penyemprot air di sekitar Graha Mandiri, Jakarta. Kabar ketegangan dari Malioboro, Yogyakarta, juga ikut beredar. Pesan “stay safe”, doa, dan ajakan saling menjaga muncul bersama kabar tersebut.

Dalam fase ini, tagar digunakan pengguna untuk terus menyuarakan tuntutan dan sambil mengikuti keadaan peserta yang turut ikut aksi masa.

Fase 4

29-30 Oktober

Pada dua hari berikutnya, pengguna terus membagikan cerita aksi, dukungan kepada peserta, dan kekerasan aparat. Namun, di saat yang sama, ada juga pengguna yang menanggapi tuduhan bahwa demonstrasi hanya membuat rusuh. Keluhan tentang ekonomi, lingkungan, dan kebutuhan sehari-hari tetap muncul.

Jejak ini membantu menjelaskan maksud “kami sadar, maka kami bersuara”. Sebelum demonstrasi, pengguna sudah membicarakan persoalan dan mengajak orang ikut. Saat aksi berlangsung, mereka menyebarkan slogan serta kabar peserta. Sesudahnya, pengalaman aksi ikut menjadi bahan kritik kepada pemerintah.

Tagar apa yang ikut beredar?

#IndonesiaSadar muncul dalam 13.147 tweets pada analisis tagar. Di bawahnya ada #demo dalam 938 dokumen, lalu #IndonesiaButuhOksigen dalam 193 tweets.

Urutan ini memperlihatkan bahwa pengguna memakai beberapa tagar untuk menyertai pesannya.

Misalnya, tagar #IndonesiaButuhOksigen muncul bersama pesan mengenai hutan, satwa, dan kehidupan warga. Ada pula #karhutla, yang tercatat dalam 31 tweets. Tagar tersebut memperjelas konteks kata “dibakar” dalam slogan kampanye. Dalam contoh unggahan, pengguna menghubungkannya dengan kebakaran hutan dan dampaknya terhadap kehidupan.

Atau, tagar #AllEyesOnIndonesia muncul dalam 67 tweets. Sementara itu, #PrayForIndonesia tercatat dalam 40 tweets, #WargaJagaWarga dalam 39 tweets, dan #HidupPerempuanYangMelawan dalam 30 tweets.

Dengan kata lain, tagar-tagar ini menunjukkan beberapa tujuan, seperti meminta perhatian, menyampaikan doa, mengajak saling membantu, dan mendukung perempuan yang bersuara.

Penyebutan pejabat dan lembaga

Akun @prabowo disebut dalam 122 tweets, @gerindra dalam 50 tweets, dan @divhumas_polri dalam 44 tweets.

Contoh teks yang menyebut akun-akun ini mempertanyakan respons terhadap kritik, perlakuan kepada peserta aksi, serta informasi yang dipublikasikan kepolisian. Namun, beberapa pengguna juga ada yang menggunakannya sebagai desakan agar pemimpin mundur.

Berbeda dengan penyebutan akun personal yang banyak berisi slogan, contoh penyebutan pejabat dan lembaga lebih jelas diarahkan sebagai kritik atau tuntutan pertanggungjawaban.

Penutup

#IndonesiaSadar mempertemukan keluhan tentang biaya hidup, pajak, pendidikan, dan kebakaran hutan dalam seruan “kami sadar dan akan melawan.” Ajakan yang sudah beredar sebelum 28 Oktober itu disertai persiapan aksi, lalu berkembang menjadi penyebaran kabar, pesan saling menjaga, dan kritik kepada pemerintah serta aparat. Slogan, hubungan antarkata, tagar pendamping, dan penyebutan akun memperlihatkan bagaimana keluhan dibagikan dan dukungan disampaikan.


AI digunakan untuk membantu penyuntingan bahasa, termasuk pemilihan kata, tata bahasa, dan kejelasan kalimat.

← Kembali ke Publication